0
PEMBURUONLINE – Coblosan di luar negeri untuk mekanisme kotak suara keliling (KSK) dan tempat pemungutan suara (TPS) resmi berakhir kemarin (14/4). Selanjutnya tinggal menunggu penghitungan suara yang akan dilakukan serentak pada 17 April.

Berdasar laporan yang diterima Wartwan, ada beberapa kendala yang terjadi di sejumlah negara. Di Arab Saudi, coblosan yang diadakan di Makkah, tepatnya di Kantor Misi Haji, sempat diwarnai kesemrawutan. Menurut Muhammad Rofi’i, warga Lumajang yang tinggal di Saudi, ada beberapa kendala. Antara lain, lokasi coblosan yang berada di lantai bawah gedung sangat menyulitkan pemilih. “Ada lebih dari seribu pemilih, tapi akses menuju lokasi tidak memadai. Akibatnya, terjadi antrean,” katanya.

Selain itu, banyak pemilih yang baru didata saat hari H coblosan. Menurut Rofi’i, Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Arab Saudi memang membuka pendaftaran melalui online. Namun, banyak pemilih yang baru mendaftar saat hari H coblosan. Akibatnya, petugas harus mencatat identitas mereka satu per satu.

“Saya yang sudah mendaftar secara online diminta antre bersama mereka yang baru mendaftar manual. Ini kan tidak profesional,” cetusnya. Penumpukan massa membuat pendaftaran molor. “Seharusnya jam 12 malam selesai, tapi molor sampai sekitar jam 4 pagi,” katanya.

Rofi’i menilai panitia tidak siap menyelenggarakan coblosan. Apalagi, sosialisasi tentang pendaftaran online masih minim. “Banyak yang tidak tahu pendaftaran bisa dilakukan secara online,” ucapnya. Hingga berita ini ditulis, PPLN Arab Saudi belum bisa dikonfirmasi.

Keributan juga terjadi di Sydney, Australia. Di sana ratusan pemilih tidak bisa menggunakan hak pilih mereka. Ketua PPLN Sydney Heranudin dalam keterangan persnya menjelaskan, pemilih yang tidak bisa terlayani itu berstatus DPK (daftar pemilih khusus). Mereka memang baru bisa dilayani pukul 17.00-18.00. Mereka tidak tahu jika masuk DPK lantaran tidak tercatat di DPT yang terbit pada 12 Desember 2018.

”Mereka baru mendaftar (sebagai pemilih, Red) setelah tanggal penetapan DPTLN (daftar pemilih tetap luar negeri),” terangnya. Pada hari H pemungutan suara, mereka baru boleh menggunakan hak pilihnya setelah pukul 17.00 atau satu jam sebelum TPS tutup. Aturannya, pemilih yang tercatat di DPT memang akan didahulukan. Pemilih DPK hanya dilayani satu jam terakhir dengan catatan masih tersedia surat suara.

Menurut Heranudin, menjelang pukul 17.00, antrean pemilih mencapai puncak. ”Pemilih DPK LN yang ingin mencoblos memenuhi pintu masuk lokasi gedung TPS,” lanjutnya. KPPS LN pun mempercepat layanan agar antrean berkurang. Khusus untuk penyandang disabilitas diberi akses khusus tanpa antrean.

Hingga pukul 18.00, antrean di luar gedung masih panjang. Akhirnya, dengan pertimbangan keamanan dan batas waktu penggunaan gedung, diputuskan untuk menutup gerbang. Pemilih di luar diberi penjelasan bahwa waktu coblosan telah berakhir. Sedangkan yang sudah berada di dalam gedung masih bisa dilayani. Pemungutan suara berlangsung hingga pukul 19.00 waktu setempat.
Menurut Heranudin, pihaknya sudah mengajukan perpanjangan waktu penggunaan gedung untuk pemungutan suara. Hasilnya, gedung tersebut bisa dikosongkan maksimal pukul 20.00 waktu setempat. Sebab, otoritas setempat tidak bisa memberikan tambahan waktu terlalu lama.

Sementara itu, coblosan di negara-negara lain berlangsung semarak. Di Hongkong para pemilih merasa puas dengan kinerja PPLN. “Pelayanan petugas baik banget. Ramah,” kata Reny Mei Ananingsih, WNI yang mencoblos di Tsim Sha Tsui, Hongkong. Reny punya pengalaman berkesan. Waktu itu antrean mencoblos sangat panjang. Reny yang datang dengan anaknya yang masih kecil ikut antrean. Petugas PPLN lantas mempersilakan Reny langsung mencoblos. “Saya dimasukkan jalur tamu undangan. Nggak perlu antre. Katanya, kasihan sama anak saya,” ujarnya. Menurut petugas tersebut, ada instruksi dari petinggi KJRI untuk memprioritaskan ibu-ibu yang membawa anak kecil.

Lain lagi dengan skuad PSM Makassar yang sedang berada di Bacolod, Filipina, untuk melawan Kaya FC-ILOILO pada 17 April. Sebanyak 15 pemain plus ofisial tim tidak bisa menggunakan hak pilih. Media Officer Sulaiman Karim kepada Jawa Pos kemarin (14/4) mengatakan, sebenarnya pihaknya sudah mempersiapkan untuk mencoblos. Pemain dan ofisial tim sudah punya formulir A5 untuk mencoblos di luar negeri. Manajemen juga sudah berkoordinasi dengan KPU.

Kendati baru main pada 17 April, runner-up Liga 1 musim lalu itu sudah menuju Bacolod kemarin. Harapannya, mereka bisa ikut mencoblos karena coblosan di Filipina diadakan kemarin. ”Kami transit dulu di Bali, lalu ke Manila sebelum menuju Bacolod. Di Manila ini satu-satunya kota tempat pencoblosan di Filipina,” ungkapnya. Namun, waktu transit ternyata tidak panjang. Hanya 2-3 jam. PSM juga sudah menunggu perwakilan dari KBRI Filipina yang katanya akan membantu para pemain dan ofisial tim untuk mencoblos. ”Ya, mau bagaimana, kami hanya transit soalnya,” paparnya.

PSM memang tiba di Manila sekitar pukul 13.00 waktu setempat. Dua jam setelahnya, tim harus melanjutkan perjalanan menuju Kota Bacolod. ”Tidak bisa keluar bandara, risiko. Dia meminta maaf kepada sejumlah pihak karena gagal mencoblos. Dia tak ingin PSM disebut tidak nasionalis. ”Si tuasi yang membuat kami batal mencoblos. Seumpama kami stay di Manila mungkin bisa, tapi kan hanya transit,” paparnya.
Pemungutan suara Pemilu 2019 di Taiwan didominasi sistem pos. Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Taiwan Sutarsis menuturkan, dalam daftar pemilih tetap (DPT), ada 272.083 orang. Pemilu di Taiwan dengan pencoblosan langsung dilaksanakan kemarin (14/4).
Sutarsis menuturkan, WNI yang menyalurkan suara dengan mencoblos langsung di TPS tidak terlalu banyak. Tadi malam dia mengatakan, WNI yang mencoblos di TPS sekitar 9.600 orang atau hanya 3,5 persen dari total pemilih dalam DPT. “Kalau estimasi saya, merujuk Pemilu 2014, yang terkirim via pos sekitar 70 persen,” katanya.

Sutarsis menuturkan, pada Pemilu 2014, WNI di Taiwan yang menggunakan hak suara dengan sistem pos mencapai 142.422 orang. Dari jumlah tersebut, surat suara yang kembali kepada panitia dan dihitung hanya sekitar 40 ribu atau 28 persen.
Secara umum, menurut Sutarsis, pencoblosan langsung di Taiwan berjalan lancar. Total TPS di seluruh negara berjuluk Naga Kecil Asia itu 34 titik. Daerah di Taiwan dengan populasi WNI terbesar ialah Taipei, Taoyuan, dan Kaohsiung.

KPU Abaikan Surat Suara Tercoblos di Selangor
Kasus dugaan ribuan surat suara tercoblos di Selangor, Malaysia, masih gelap. KPU belum bisa mengambil keputusan apa pun selain mengabaikan kasus itu. KPU juga tidak akan menghitung surat suara tersebut. Mereka memutuskan bahwa coblosan di Malaysia tetap berjalan sesuai rencana. Tidak ada penundaan.

”Kami mengambil sikap melanjutkan pemungutan suara dan tidak menghitung yang ditemukan itu. Dianggap sampah saja yang ditemukan itu,” ujar Komisioner KPU Ilham Saputra saat ditemui di KPU kemarin (14/4). KPU mendasarkan sikapnya pada dua hal. Pertama, hingga kemarin KPU belum mendapat akses terhadap surat suara yang diklaim bermasalah tersebut. Pihak Polisi Diraja Malaysia belum mengizinkan siapa pun untuk mengakses surat suara itu dengan alasan penyelidikan. Dengan demikian, belum bisa dipastikan apakah surat suara tersebut benar milik KPU atau bukan.
Ilham menyatakan, pihaknya juga tidak mengetahui bagaimana bisa ada surat suara di lokasi tersebut. Yang sudah bisa dipastikan adalah gudang yang diklaim digerebek dan berisi surat suara itu bukan gudang yang disewa Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Kuala Lumpur. ”Menurut PPLN, kita hanya menaruh di gudang KBRI dan sekolah Indonesia di Kuala Lumpur,” lanjutnya. Tidak ada tempat penyimpanan lain di luar dua lokasi itu.

Atas dasar itulah, KPU memutuskan untuk tidak menghitung surat suara tersebut karena statusnya belum jelas. Bagaimana bila ada rekomendasi yang berbeda dari Bawaslu, Ilham menjawab diplomatis. ”Ya, kami pelajari terlebih dahulu bagaimana rekomnya,” ucapnya. (team)

Posting Komentar

 
Top