0
Pemburuonline.com-Aksi pemblokiran jalur lalu lintas Bandara Sultan Babbulah yang dilakukan ribuan mahasiswa saat melakukan demonstrasi turunnya harga komuditi popra di Provinsi Maluku Utara, Senin 19 November 2018, berakhir ricuh. Aparat terlibat saling serang dengan mahasiswa.
Aparat kepolisian dari Polres Ternate dan Polda Maluku Utara, membubarkan paksa ribuan mahasiswa yang melakukan pemblokiran akses jalan utama menuju Bandara Sultan Babbulah.

Aparat terlibat baku lempar di depan Kampus I Universitas Khairun Ternate, Kelurahan Ake Huda, Kecamatan Ternate Utara, berdekatan dengan Bandara Sultan Babbulah Ternate.
Aksi yang dilakukan mahasiswa dari berbagai universitas di Maluku Utara itu dilakukan semenjak pagi hingga petang tadi. Mereka menuntut turunnya harga kopra di Provinsi Maluku Utara.

Dalam aksinya, mahasiswa melakukan pemblokiran akses Lalulintas menuju bandara membuat arus lalu lintas lumpuh. Awalnya, aksi yang dilakukan berjalan damai. Namun, saat pihak kepolian meminta menghentikan demonstrasi lantaran mengganggu akses menuju bandara, mahasiswa menolak dan berupaya merangsek masuk ke bandara dengan maksud memboikot aktivitas penerbangan.
Upaya yang dilakukan itu langsung dicegah oleh aparat melalui negosiasi. Namun mereka menolak dan melakukan pelemparan kepada petugas, sehingga bentrokan pun pecah. Aksi pelemparan dibalas aparat dengan tembakan gas air mata.

Aksi saling serang antara mahasiswa dan polisi merambat hingga ke kawasan padat penduduk. Aparat terus memukul mundur massa aksi dengan rentetan tembakan gas air mata. Akibatnya, warga sekitar terkena imbas dan mengalami batuk-batuk. Bahkan balita berumur tiga bulan kejang-kejang karena menghirup asap gas.
"Kami tahu di luar ada demo, tapi ini sudah masuk rumah-rumah warga. Jangan lagi ditembak. Di sini ada anak bayi, kalau ada apa-apa dengan bayi saya, siapa mau tanggung jawab," teriak Jili Ismail, nenek balita, kepada Kapolres Ternate AKBP Azhari Juanda saat melihat kondisi bayi tersebut.

Sementara itu, Kapolres Ternate AKBP Azhari Juanda mengaku, aksi pembubaran yang dilakukan anggotanya sudah dengan Standar Oprasional (SOP) kepolisian yang tepat.

"Tembakan gas air mata yang dilakukan personel, diarahkan kepada mahasiswa bukan di permukiman warga, namun lantaran terbawa angin gas tersebut terhirup warga, kami mohon maaf," kata Azhari.

Dalam aksi ini Kapolres mengaku belum mengetahui beberapa mahasiswa yang ditahan.
(vv/rdi)

Posting Komentar

 
Top