0
JAKARTA - Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) Emerson Yuntho turut angkat bicara soal tertangkapnya jaksa Kejati Jatim Ahmad Fauzi. Menurutnya, tindakan suap yang dilakukan jaksa tidak sekali ini saja terjadi. Sudah beberapa kali jaksa tertangkap menerima suap. "Artinya, fungsi pengawasannya tidak berjalan," cetus dia kemarin. 

Selain jaksa yang melakukan pelanggaran ditindak, menurut Emerson, Jaksa Agung Prasetyo harus diganti. "Agar jaksa yang ditangkap tidak semakin banyak, jaksa agung sudah saatnya diganti," tegasnya.  

Presiden Joko Widodo tidak boleh segan-segan mencopot Prasetyo. Menurut dia, kejaksaan butuh reformasi total. Jika jaksa agung tidak diganti, sulit rasanya berharap kejaksaan bisa bersih dari kepentingan politik. 

Direktur Eksekutif Setara Institute Hendardi sama sekali tidak kaget dengan ketertutupan Kejagung. Menurut dia, kejaksaan selama ini memang tidak transparan dalam bekerja. "Ya, mereka ini tidak pernah terbuka," ujarnya saat dihubungi Wartawan kemarin.  

Hendardi menjelaskan, persoalan adanya oknum yang terlibat korupsi atau pemerasan biasanya ditutup-tutupi. Sebab, kejaksaan sudah lama dikenal sangat melindungi korpsnya. "Bila dibandingkan dengan kepolisian, sangat jauh transparansinya dan progres dalam keterbukaan publiknya," ungkapnya. 

Bila oknum jaksa itu mendapatkan sanksi, Kejagung biasanya tidak menampilkannya ke publik. "Mereka diam dan diselesaikan secara internal," ungkap aktivis HAM tersebut.  

Hendardi menambahkan, pengungkapan kasus pungli atau korupsi di Kejagung memang minim. Namun, hal itu tidak berarti lembaganya bersih. Memang Kejagung tidak berniat memberantas pungli. 

"Soal angka, kasus pungli di kepolisian lebih banyak dan Kejagung sangat sedikit. Tapi, itu tidak menunjukkan bahwa Kejagung lebih bersih, tapi justru tidak memiliki niat membersihkan diri dari pungli," tukasnya. Yang lebih ironis adalah hampir semua lembaga pengawas internal dan eksternal kejaksaan juga tidak berjalan.  (rdijpc) 

Posting Komentar

 
Top