0
JAKARTA – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fadli Zon menyikapi perkataan Presiden Joko Widodo saat melakukan berkunjung ke markas Komando Pasukan Khussus (Kopassus) pada Jumat, 11 November 2016 di Cijantung, Jakarta Timur.

Saat itu, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa Kopassus merupakan pasukan cadangan yang bisa digerakkannya melalui Panglima TNI untuk keperluan khusus saat negara dalam keadaan daruruat.

"Dan kami melihat, jangan mengirim sinyal yang salah. Misalnya datang ke tentara, polisi, itu bagus, bagus sekali. Tapi tidak usah dikomentari siap digerakan dalam darurat," kata Fadli kepada wartwan di sela-sela acara Kongres Nasional I Keluarga Alumni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Jakarta, Sabtu kemarin.

Ia menilai, apa yang disampaikan Presiden Jokowi ketika itu bisa memberikan sinyal yang keliru.
"Maksudnya apa? Masa tentara disuruh melawan rakyat, kan mereka (tentara) itu anak kandung rakyat. Kalau mau berikan ucapan selamat kepada tentara, inspeksi, dan mengucapkan terima kasih, ya, dilakukan saja, tidak perlu show of force (unjuk kekuatan)," ucap Fadli.

Oleh karenanya, Fadli menyarankan agar Jokowi tetap fokus pada kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI nonaktif Basuki Jakarta Basuki Tjahaj Purnama alias Ahok agar tidak menimbulkan masalah baru.

"Persoalan utama itu penistaan agama yang dilakukan Saudara Ahok. Sudah ada keputusan MUI (Majelis Ulama Indonesia), kemudian ada tuntutan masyarakat secara nyata, jangan bergeser ke mana-mana," ujar Fadli. (rdi/fzy)

Posting Komentar

 
Top