0
SURABAYA - Sidang perkara sodomi anak dibawah umur, kembali menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Sidang yang mendudukkan Triono Agus Widodo alias A'an (34), warga Jalan Bandarejo II gang 1 kecamatan Benowo sebagai terdakwa ini mengagendakan keterangan saksi.
Ada 15 saksi yang didatangkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Irene Ulfa dari Kejari Surabaya, saksi tersebut antara lain enam saksi korban pencabulan, satu saksi korban kekerasan seksual, dua dari guru, kemudian enam lagi adalah saksi dari orangtua korban.

Dalam sidang yang digelar tertutup ini, para korban menceritakan kronologis kejahatan yang dilakukan terdakwa. Semua korban mengaku telah dicabuli oleh terdakwa A'an.

Usai sidang, JPU Irene Ulfa mengatakan jika semua korban mengaku diancam menggunakan gunting, serta bagian tertentu akan dijepit dengan penjepit kertas lalu ditarik. "Itu dilakukan jika korban menolak ajakan dari terdakwa," kata Irene Ulfa.

Sidang kali ini juga mengagendakan pemeriksaan terdakwa. Terdakwa tak membantah jika dirinya telah melakukan oral pada semua korbannya, namun dirinya membantah jika sampai mencabuli.

"Saya hanya raba-raba saja pak hakim, jadi saya tidak sampai mencabuli korban," terang terdakwa

Modus terdakwa dalam melakukan aksi bejatnya ini tergolong rapi. Korban adalah penumpang angkot yang dikemudikan terdakwa. Ketika mencari mangsanya, korban digratiskan dari pembayaran angkot.

Setelah mengenal lebih dekat, terdakwa tak lagi menggunakan angkot nya sebagai angkutan umum, melainkan dipakai khusus antar jemput para korban.

Setelah dekat, para korban pun diajak mengenal lingkungan tempat tinggal terdakwa. Rumah terdakwa yang ada fasilitas warung dan meja billiard, dijadikan terdakwa sebagai bahan daya tarik bagi para korban yang rata -rata berusia belasan tahun.

Nah, disaat kedekatan itulah terdakwa mulai memanfaatkan korban. Terdakwa pun dengan sadar tertarik dengan para korban hingga berhasil melampiaskan aksi bejatnya dengan para korban yang berkelamin sama dengan terdakwa.

Aksi bejat terdakwa terjadi pada tahun 2015. Dimana berawal dari guru menerima laporan dari siswanya. Kemudian pihak sekolah melaporkan ke Surabaya Children Crisis Center (SCCC). Setelah itu, dilakukan pendampingan dan membuat laporan ke kantor polisi.

Korban berjumlah 23 anak SMP, namun hanya tujuh korban yang resmi lapor ke kantor polisi.

Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya yang diketuai Tutut Topo Sripurwati, menunda sidang hingga dua pekan depan. “Sidang digelar dua pekan lagi dengan agenda pembacaan tuntutan. Saya harap jaksa mempersiapkan tuntutannya,” ujarnya sembari menutup sidang. (rdi/uci/bj)

Posting Komentar

 
Top