0
JAKARTA - Masyarakat Jakarta umumnya sekarang berharap jangan sampai last minute PDIP tergoda diguyur oleh permainan uang sehingga mendukung Ahok yang visinya dalam mengurus Jakarta jelas bertolak belakang dengan visi PDIP sebagai partai wong cilik dan tidak sejalan dengan idealisme ajaran Sukarno yang dianut oleh Megawati sebagai ketua umum.


Seorang petinggi PDIP di wilayah Jakarta bercerita di daerahnya sekarang warga tidak berani sembarangan pakai kaos bergambar Ahok yang belakangan ini banyak dibagi-bagikan oleh sekelompok orang tertentu, sebab kaos tersebut bisa menyulut kemarahan warga.

Seorang tokoh pluralis yang punya marwah tinggi di kalangan ormas keagamaan terbesar di tanah air beberapa hari lalu bahkan mengeluh. Katanya kultur Indonesia tidak terdapat dalam diri Ahok. Sulit membayangkan kalau Ahok berkuasa lagi, arogansi dan sikap congkaknya terhadap masyarakat terutama wong cilik pasti bakal menjadi-jadi.

Tokoh ini mendengar Ahok berambisi jadi wapresnya Jokowi dalam Pilpres 2019. Sudah bukan rahasia Jokowi sendiri berutang budi pada Ahok.

Pengakuan Ahok ketika menggelar rapat dengan Direksi PT Jakarta Propetindo (Jak Pro) tanggal 26 Mei 2015 jadi bukti. Dalam rapat yang digelar di Balaikota DKI Jakarta itu, Ahok menyebut Jokowi tidak akan bisa menjadi presiden jika tidak ada peran pengembang proyek reklamasi.

“Saya pengen bilang Pak Jokowi tidak bisa jadi presiden kalau ngandalin APBD, saya ngomong jujur kok,’” kata Ahok.

Makanya berkembang anggapan umum bahwa dicopotnya Rizal Ramli dari posisi Menko Maritim dan Sumber Daya adalah akibat Rizal mengepret pengembang yang tak lain ada para cukong reklamasi Pantai Utara Jakarta. Rizal boleh ngepret apa saja, asal jangan ngepret reklamasi yang merupakan mesin ATM itu.
Rizal sendiri kini diunggulkan oleh masyarakat Jakarta untuk maju dalam Pilkada Jakarta, sebab dia dianggap satu-satunya tokoh yang secara karakter mampu menandingi Ahok.

Bagaimana dengan dukungan tiga partai kepada Ahok, yaitu Nasdem, Hanura, dan Golkar?
Hanura dipastikan tidak bakal all out memberikan dukungan kepada Ahok, sebab partai asuhan Wiranto ini pada dasarnya punya banyak keterbatasan.

Adapun Golkar dukungannya kepada Ahok dipastikan bakal rontok di tengah jalan sebab para elite Golkar sebenarnya tidak solid mendukung Ahok. Aburizal Bakrie, MS Hidayat, Bambang Soesatyo adalah sedikit contoh saja dari sekian banyak elite Golkar yang tidak setuju partai beringin kasih dukungan ke Ahok, kecuali Setya Novanto yang selain dikenal merupakan politisi transaksional, juga punya agenda pribadi. Kabarnya Setnov kepingin sekali jadi wakil presiden.

Dengan gambaran seperti ini praktis hanya Nasdem yang kemungkinan akan tetap mendukung Ahok. Setidaknya ini dapat dilihat dari all out-nya media massa milik Surya Paloh dalam mendukung Ahok.

Hal lain Ahok yang dikenal suka berkhianat kepada partainya sendiri. Dulu dia kader Partai Indonesia Baru, Golkar, dan kemudian Gerindra, Ahok juga dikenal pinter bikin Agitpop alias agitasi dan propaganda. Salah satunya kunjungannya bertemu Megawati di DPP PDIP beberapa hari yang lalu adalah dalam rangka melancarkan agitasi dan propaganda untuk membentuk opini publik, bahwa seolah-olah tidak ada figur lain yang diandalkan PDIP untuk dijadikan gubernur Jakarta, selain dirinya.

Waktu tanggal 17 Agustus yang lalu bahkan sempat berhembus kabar sesat bahwa Ahok dan Djarot sudah direstui Megawati dan akan deklarasi di tugu proklamasi. Tetapi nyatanya isapan jempol belaka, dalam rangka mengecoh publik. (rdi)

Posting Komentar

 
Top