0
SURABAYA - Sidang perkara penggelapan batubara senilai Rp3,2 miliar yang melibatkan Eunike Lenny Silas sebagai terdakwa kembali batal digelar, majelis hakim yang diketuai Efran Basuning menunda sidang karena kuasa hukum terdakwa Lenny menyatakan Lenny masih dalam keadaan sakit dan butuh perawatan.

" Saya menerima surat tertanggal 13 Juni 2016 kemarin, disini terdakwa dinyatakan masih dalam keadaan sakit. Apa benar terdakwa masih sakit?," ujar Efran pada kuasa hukum Lenny dan diiyakan oleh Jon Matias selaku kuasa hukum Lenny.

Sementara terdakwa dua yakni Usman Wibisono bisa bernafas lega karena hakim Efran mengabulkan permintaan penangguhan penahanan terhadapnya, Usman yang awalnya ditahan di Rutan Medaeng kini menjadi tahanan kota.

" Karena faktor kemanusiaan, mulai hari ini status penahananmu saya alihkan menjadi tahanan kota," ujar hakim Efran.

Usai sidang, salah satu jaksa penuntut umum (JPU) Yuni mengaku kecewa dengan penundaan sidang ini karena waktu dan tenaganya sebagai jaksa terkuras namun ujung-ujungnya sidang tidak bisa digelar.

" Kalau kecewa pasti, tapi mau gimana lagi. Akhirnya sidangnya ditunda dan menjadi berlarut-larut seperti ini. Mestinya kita bisa mengerjakan pekerjaan lainnya, akhirnya tidak bisa," keluh Yuni.

Sebelumnya kuasa hukum pelapor Tan Pauline yakni Alexander Arief menyesalkan keputusan hakim, karena menurut Alex pembantaran hakim tanpa dasar karena hanya berdasarkan fotokopy. Surat dokter belum ada.

" Kenapa hakim langsung mengiyakan apa yang menjadi permintaan kuasa hukum terdakwa, sementara dari RS sebelumnya yakni RS Onkologi dan RSAL bahwa tidak ada sakit yang diderita Lenny sama sekali tidak dijadikan pertimbangan," ujar Alex.

Alex juga mengklaim jika Lenny sudah keluar dari RS Mitra Keluarga dan sudah di Jakarta. " Padahal penetapan hakim belum ada, kita dengar sendiri jika pembantaran baru dilakukan besok tapi tadi pagi Lenny sudah ada di Jakarta," ujar Alex.

Alex menuding jika sudah ada keberpihakan yang dilakukan hakim sehingga ia akan berkirim surat ke Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung terkait hal ini.

" Ini sudah ada skenario yang luar biasa, mau dibawa kemana peradilan kita ini. Hakim membuat keputusan pembantaran tanpa adanya dasar yang jelas. Saya sangat menyayangkan dan sangat kecewa terkait hal ini," ujar Alex.

Perkara ini bermula dari laporan Pauline Tan ke Polda Jatim 2013 lalu. Saat itu terdakwa Lenny dan terdakwa Usman Wibisono meminjam batubara sebanyak 11 ribu metrik ton dengan nilai Rp 3,2 miliar ke saksi korban.

Namun, peminjaman tersebut tidak pernah dikembalikan dan Ketika dicek ke tempat penyimpanan batu bara tersebut juga sudah tidak ada dan ternyata sudah terjual. Batu bara itu dijual oleh pemilik izin pertambangan, H Abidin, atas perintah kedua terdakwa.

Setelah didesak korban, kedua terdakwa  bersedia membayar dengan uang sebesar Rp 3,2 miliar melaui giro, tapi ternyata giro tersebut kosong.

Atas perbuatannya, kedua terdakwa didakwa melanggar pasal 372 juncto  pasal 55 tentang Penggelapan. (ad/rdi)

Posting Komentar

 
Top