0
SURABAYA - Upaya mendatangkan Paulin Tan alias Tan Paulin pulang ke Indonesia, tim penasehat hukum Eunike Lenny Silas minta kepada pihak Imigrasi untuk mencabut paspor atas nama  Tan Paulin.

Pencabutan paspor Tan Paulin ini kemungkinan akan dilakukan karena Tan Paulin yang sudah berstatus tersangka di Mabes Polri atas laporan Eunike Lenny Silas tentang penipuan dan penggelapan 4 alat berat senilai Rp. 3 miliar, hingga saat ini tak juga memenuhi panggilan penyidik.

Penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum Mabes Polri memasukkan nama Tan Paulin sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO).

Ketua Tim Penasehat Hukum Eunike Lenny Silas, Harja Karsana Kosasih, SH, mengatakan kepastian Tan Paulin menjadi DPO ini berdasarkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) Nomor : B/408/VI/2016/Dittipidum tertanggal 3 Juni 2016. SP2HP yang ditanda tangani Kasubdit V Dittipidum Mabes Polri, AKBP. Suwondo Nainggolan ini diterbitkan dengan mempertimbangkan Laporan Polisi Nomor : LP/847/IX/2014/Bareskrim tanggal 11 September 2014 atas nama pelapor Eunike Lenny Silas, Surat Perintah Penyidikan Nomor : SP Sidik/898/IX/2015/Dittipidum tertanggal 17 September 2015.
“Dalam SP2HP itu juga dinyatakan, penyidik Mabes Polri menerbitkan ketetapan pencekalan terhadap tersangka Tan Paulin berdasarkan Keputusan Kepala Kepolisian RI Nomor : Kep/481/V/2016 tertanggal 04 Mei 2016 tentang pencegahan dalam perkara pidana. Kemudian, dalam SP2HP itu juga dijelaskan tentang permohonan untuk mengamankan tersangka Tan Paulin kepada Dirjen Imigrasi berdasarkan surat Kabareskrim Polri tertanggal 01 Juni 2016, “ ungkap Kosasih.
Penjelasan ketiga, lanjut Kosasih, dalam SP2HP itu adalah menerbitkan DPO terhadap tersangka Tan Paulin berdasarkan Surat DPO tertanggal 31 Maret 2016. Penjelasan keempat adalah mengajukan bantuan penerbitan red notice terhadap tersangka Tan Paulin kepada Divhubinter Polri.
Sehubungan dengan ditolaknya permohonan praperadilan yang diajukan Tan Paulin tanggal 31 Maret 2016 dan dibacakan hakim Martin Pontoh selaku hakim praperadilan PN Jakarta Selatan tersebut, HK.Kosasih dengan tegas mengatakan, penyidik harus melanjutkan kembali proses penyidikan ini dan segera memeriksa Tan Paulin sebagai tersangka.

“Saat ini, Lenny Silas menjadi terdakwa dan perkaranya disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Sejak disidangkan di PN Surabaya, banyak sekali tudingan dan caci maki serta hinaan yang dialamatkan ke Lenny Silas dengan mengatakan Lenny Silas seorang penipu. Belum lagi pemberitaan-pemberitaan yang begitu menyudutkan Lenny Silas, “ ungkap Kosasih.

Panjangnya proses penyidikan yang menjadikan Tan Paulin sebagai tersangka itu juga mendapat tanggapan Kosasih. Menurut Kosasih, dari sini terlihat bagaimana sulitnya menuntaskan proses penyidikan Tan Paulin.
"Jika selama ini banyak orang menuding bahwa Lenny Silas dekat dengan Kapolri, Lenny Silas dekat dengan petinggi-petinggi Polri, itu keliru dan salah besar
Kalau memang Lenny Silas dekat dengan Kapolri, dekat dengan para petinggi Polri, mengapa laporan Lenny Silas ini tak kunjung selesai,  Kasus ini sudah 2 tahun, terhitung sejak dilaporkan tanggal 11 September 2014. Coba bandingkan dengan laporan Tan Paulin ke Mabes. Atas laporannya itu, saat ini Lenny menjadi terdakwa dan perkaranya sedang dalam proses persidangan di PN Surabaya, “ papar  Kosasih.

Masih menurut Kosasih, oleh karena itu penyidik kepolisian Mabes Polri harus bertindak tegas. Sudah dua kali dipanggil, Tan Paulin tidak hadir

Ketidakhadirannya yang pertama, Tan Paulin beralasan bahwa saat itu Tan Paulin melalui penasehat hukumnya, sedang mengajukan upaya permohonan praperadilan. Begitu praperadilan dinyatakan ditolak, Tan Pauline kembali beralasan sedang menjalani pengobatan di RS Mount Elizabeth Singapura.

Untuk diketahui, Tan Paulin dijadikan tersangka atas laporan Eunike Lenny Silas di Mabes Polri terkait kerjasama pembelian alat berat berupa excavator dan dozer masing-masing sebanyak 2 unit, untuk disewakan kepada pihak ketiga dengan ketentuan modal dan keuntungan kerjasama ditanggung sama rata, yaitu 50:50. Semua urusan operasional menjadi tanggungjawab Tan Paulin sepenuhnya.

Setelah membeli 4 alat berat itu, tidak ada sepeserpun keuntungan yang diterima Lenny Silas. Sejak dinyatakan kongsi alat berat itu dibatalkan dan angsuran di leasing PT. ACC dihentikan Tan Paulin tanggal 14 Juni 2011, 4 alat berat itu malah dijual kepada  Chandra dan Gunawan seharga Rp. 950 juta untuk tiap unitnya, Eunike Lenny Silas tidak menerima uang hasil penjualan alat berat tersebut. Akibatnya, Lenny mengalami kerugian Rp. 3 miliar,  Kasus ini kemudian dilaporkan ke Mabes Polri. (hf/ad/rdi)

Posting Komentar

 
Top