0
SURABAYA – Sidang perkara penggelapan dengan terdakwa Abraham Alias Helito, warga Perumahan Mentari Kenjeran Blok A No. 09 Surabaya kembali digelar pada Senin (27/06/2016) diruang Garuda Pengadilan Negeri Surabaya dengan agenda mendengarkan Keterangan Saksi, dalam perkara ini jaksa tidak melakukan penahanan terhadap terdakwa.

Diantara saksi yang dihadirkan adalah Staf Notaris Sindu, yakni Agus Purnomo, kesaksian Agus dibawah Sumpah memaparkan perihal terdakwa Helito Alias Abraham, pada saat itu saya diminta oleh Saksi Korban Haji Faroq bersama menemui terdakwa disalah satu Hotel di Surabaya.

Seingat saya pada awal bulan 12 tahun 2014, lantas saya bertemu terdakwa pada saat itu sudah larut malam, tujuannya untuk membahas kedudukan terdakwa di PT.Gumuk Mas dan pembangunan Mega proyek di Bondowoso.

Terdakwa meminta data sertifikat tanah para petani, Siup, dan NPWP, didalam musyawarah tersebut terdakwa berjanji akan mencairkan dana sebanyak Rp.150 milyar dan meminta PT. Gumuk Mas, dirubah kedudukan Haji Faroq yang selama ini menjadi direktur utama digeser sebagai wakil Direktur Utama PT.Gumuk mas, tujuannya untuk pembangunan Mega Proyek berjenjang supaya terdakwa bisa leluasa meminjam uang diBank lantaran dia (terdakwa-red) selaku Direktur Utamanya.

Ada kesepakatan antara Terdakwa Abraham dan Korban Haji Faroq terkait pengolaan PT.Gumuk mas, dimana Abraham 70 persen dan Haji Faroq 30 persen, setelah itu terdakwa meminta sertifikat Petani dan petok D segera diserahkan, namun saya hanya membawa foto copinya saja.

“Terdakwa meminta saya untuk tidak ragu terhadap dirinya, lantaran terdakwa pemodal besar dan punya uang dibank sebanyak 1,7 triliun namun saya tetap tidak memberikan sertifikat yang asli milik petani, selagi uang yang dijanjikan terdakwa belum dipenuhi untuk biaya tanah petani tidak perlu ambil dibank, nanti akan segera saya bayar,” ucap Saksi menirukan bualan Terdakwa.

Pagi harinya saya mau mendatangi pihak Bank yang disebut-sebut terdakwa, tujuannya untuk mengecek kebenaran ucapannya, namun terdakwa berdalih tidak bisa ke Bank lantaran mau berangkat ke Jerussalem.
Usai sidang korban Haji Faroq membenarkan pernyataan saksi, Minota notaris memang belum ditanda tangani pihak notaris, lantaran uang yang dijanjikan sebanyak Rp.150 milyar oleh terdakwa kepada petani belum dicaikan. “Yang jelas terdakwa ini sangat licik sekali, kalau sertifikat asli diserahkan bisa saja saya tertipu lagi. Terdakwa ini memang penipu besar,” kesal Faroq.

Seperti diberitakan sebelumnya terdakwa Helito mengaku selaku pemodal besar untuk pembangunan Mega proyek Bondowoso, dalam aksinya terdakwa memamerkan E-Banking Abal- abal triliunan guna mengelabui korban, disamping itu terdakwa juga memamerkan foto Presiden dan Gubernur Jatim, lagi-lagi tujuannya untuk mengerok uang korban, akibat bualan dan kemunafikan terdakwa Korban Haji Faroq menderita kerugian sebanyak Rp. 3,4 milyard.

Perbuatan terdakwa terhenti oleh saksi Korban lantaran terdakwa ditangkap pihak Kepolisian Polda Jatim. Namun anehnya penipu milyaran rupiah ini tidak dilakukan penahanan, setelah pihak penyidik Kepolisian Polda Jatim membawanya ke Kejaksaan, ada perlakuan istimewa terhadap diri Terdakwa.

Terkait istimewanya terdakwa Helito Tjonggro, jaksa penuntut Umum kejati Djuairiya, SH. Menampiknya, itu kewenangan Hakim bukan jaksa, terdakwa mengajukan tahanan kota melalui Hakim, jelas Djuairiyah. (hf/ad/rdi)

Posting Komentar

 
Top