0
SURABAYA – Berdasarkan bantahan dari Kuasa Hukum Tan Paulin, yaitu Rusadi Nurima,
1. Didalam hal kerjasama pembelian alat berat Tanggal 17 Mei 2010, berdasarkan fakta dan bukti Eunike Lenny Silas menyetujui pembelian alat berat dengan modal dan keuntungan di bagi 2 (dua), TAN PAULIN 50% dan Eunike Lenny Silas 50%, sebagaimana yang tertuang dalam Berita Acara Pemeriksaan Eunike Lenny Silas, bahwa : “Saya menyetujui pembelian alat berat dengan modal bersama dibagi 2 (dua) maupun hasil keuntungan dibagi 2 (dua) sama rata (50% : 50%)”.

2. Sejak awal Kerjasama, pembelian alat berat di lakukan antara PT United Tractors Indonesia (PT. UTI) dengan PT Sentosa Laju Energy (PT. SLE) dan realisasi Pembayaran sebesar 80 % dilakukan oleh pihak Leasing yaitu PT ACC, atas alat berat senilai USD 910,700 tersebut. Sehingga PT SLE membuka Cek tunai kepada PT. ACC untuk menjamin seluruh sisa pembayaran senilai Rp 8.481.104.368.

3. Bahwa dalam perkara ini, berdasarkan keterangan Eunike Lenny Silas sendiri yang mengaku telah sepakat kerjasama alat berat dengan komposisi kewajiban modal 50:50, maka kewajiban yang harus diselesaikan oleh Eunike Lenny Silas ke PT Sentosa Laju Energy (sebagai penjamin sisa pembayaran leasing) sebesar Rp 4.240.521.184. Sesuai pengakuan Eunike Lenny Silas:

“karenanya saya menyetujui pembelian alat berat dengan modal bersama dibagi 2 (dua) maupun hasil keuntungan dibagi 2 (dua) sama rata (50% : 50%). Dapat saya jelaskan, berdasarkan keterangan TAN PAULIN sendiri kepada saya, angsuran ke-2 (dua) set alat berat yang menjadi kewajiban saya selama 36 (tiga puluh enam) bulan angsuran dan sudah saya laksanakan pembayaran angsuran sampai bulan Juni 2011”.
Dalam perkara ini nyata sekali bahwa Eunike Lenny Silas tidak memenuhi kewajiban pembayaran angsuran yang sudah di talangi oleh PT Sentosa laju Energy yaitu sebesar Rp 3.324.925.840.

4. Bahwa yang harus diketahui dalam perkara ini, ada KEWAJIBAN yang harus dilaksanakan oleh EUNIKE LENNY SILAS dalam kerjasama alat berat. Terdapat keterangan menyesatkan yang diberikan oleh Eunike Lenny Silas antara lain: “2 (dua) set alat berat tersebut yang separuh bagian menjadi hak saya oleh TAN PAULIN telah di atas namakan menjadi atas nama PT Sentosa Laju Energy.”

Keterangan tersebut seakan-akan Eunike Lenny Silas (i) tidak mengetahui bahwa alat berat dibeli menggunakan nama PT. Sentosa Laju Energy dan (ii) mempunyai ha katas sebagian alat berat tersebut. Padahal berdasarkan bukti transfer yang telah diserahkan kepada penyidik, Eunike Lenny Silas sempat melakukan pembayaran down payment langsung kepada PT. United Tractors Indonesia terhadap kontrak jual-beli alat berat antara PT. SLE dengan PT. UTI dan membayar langsung sebagian cicilan ke PT. ACC atas kontrak-kontrak leasing aas nama PT. SLE dan PT. ACC.

Pernyataan Eunike Lenny Silas juga membuat seolah-olah mempunyai hak atas 2 (dua) set alat berat namun pernyataan tersebut tidak didukung dengan fakta bahwa yang bersangkutan tidak memenuhi KEWAJIBAN atas pembayaran 2 (dua) set alat berat tersebut. Fakta-fakta tersebut harus diungkap untuk mencegah penyesatan informasi bagi pembaca seolah- olah Eunike Lenny Silas mempunyai hak atas alat berat tersebut padahal tidak memenuhi seluruh kewajiban kepada PT SLE yaitu membayar sesuai kesepakatan masing masing sebesar 50:50, senilai masing masing Rp. 4.240.521.840.

5. Bahwa sesuai fakta yang ditandatangani oleh Kuasa Hukum Eunike Lenny Silas pada tanggal 14 Juni 2011, telah disepakati bahwa “Alat berat akan dihentikan oleh PT SLE di Leasing PT. ACC dan hasil leasing akan dibagi 2 (dua) SLE dan ELS.” Pernyataan bahwa “. Makna dari pernyataan tersebut adalah supaya leasing dihentikan dan SISA KEWAJIBAN yang harus dibayar oleh SLE dan Eunike Lenny Silas dan di barengi dengan pelunasan kewajiban kepada perusahaan leasing yaitu ke PT ACC dan bukan bermakna seperti yang di sesatkan oleh pihak pihak Eunike Lenny Silas seolah olah Leasing adalah HAK UNTUK MENDAPATKAN UANG CICILAN KEMBALI DARI PT ACC.

Berdasarkan bukti-bukti pembayaran dan keterangannya sendiri, Eunike Lenny Silas hanya membayarkan cicilan sebanyak 10 kali, dengan nilai total Rp. 915.596.000,- (sembilan ratus lima belas juta lima ratus sembilan puluh enam ribu rupiah).

Padahal KEWAJIBAN sesuai dengan pengakuan Eunike Lenny Silas yaitu wajib membayar 50% yakni sebesar Rp. 4,465,000,000,- (empat milyar empat ratus enam puluh lima juta rupiah), merupakan nilai kewajiban yang sama yang di tanggung TAN PAULIN.

Sehingga dengan faktanya ini, Eunike Lenny Silas bukannya mempunyai kelebihan bayar, melainkan kuraing bayar (MINUS) yaitu sebesar Rp 3.324.925.840 terhadap kewajiban alat berat tersebut, sehingga kurang bayar (MINUS) di tanggung oleh TAN PAULIN selaku pemilik PT SLE dan masih harus diganti oleh Eunike Lenny Silas.

6. Bahwa fakta yang selanjutnya terjadi, adalah selain meninggalkan kewajiban bayar (MINUS), terhadap Tan Paulin, Eunike Lenny Silas dengan sewenang-wenang, membebankan dana Leasing yang telah di setorkan untuk keperluan pembayaran kepada PT. ACC, meminta untuk di retur (dikembalikan).

Dengan cara sewenang wenang menggunakan sebagai pembayaran Hutang Interior Eunike Lenny Silas kepada Tan Paulin. Pengambilan Retur tersebut dilakukan melalui surat pemberitahuan kepada Tan Paulin, padahal hal tersebut bukan merupakan bagian dari kesepakatan perjanjian alat berat.

Sehingga akibat ulah Eunike Lenny Silas yang mau seenaknya sendiri itu, TAN PAULIN yang sebenarnya dirugikan. Eunike Lenny Silas berusaha melepaskan tanggung jawab dari kewajiban hutangnya kepada TAN PAULIN. Oleh karena itu terdapat fakta yang bertentangan di satu sisi Eunike Lenny Silas merasa mempunyai ha katas 2 (set) alat berat namun di sisi lain Eunike Lenny Silas meminta kepada TAN PAULIN agar seluruh pembayaran yang pernah dilakukannya atas alat berat tersebut dikembalikan atau dikompensasikan dengan utangnya terhadap TAN PAULIN.

7. Bahwa terhadap padangan yang keliru Eunike Lenny Silas menuduh TAN PAULIN melakukan perbuatan melawan hukum ketika menjual alat berat tersebut senilai Rp 3.800.000.000. Padahal sesuai kesepakatan yang ditandatangani bersama, telah nyata Leasing akan dihentikan oleh PT SLE dari ACC, konsekuensi langsung dari penghentian leasing adalah PT SLE harus membayar seluruh sisa leasing hingga lunas, dan sumber dananya berasal dari alat berat itu sendiri.

Oleh karena itu Eunike Lenny Silas membuat pernyataan yang bertentangan yaitu setuju menghentikan leasing, tapi tidak setuju alat berat di jual untuk menutup sisa pembayaran leasing.

8. Bahwa terhadap pandangan Eunike Lenny Silas, bahwa TAN PAULIN tidak berhak menjual alat-alat berat tanpa persetujuan pihak Eunike Lenny Silas, hal ini merupakan pendapat yang tidak berdasarkan hukum.

Sebab sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, antara PT SLE dan CV ELS telah menandatangani sama-sama setuju untuk menghentikan Leasing di PT ACC, dan Leasing dibagi dua antara PT SLE dan CV ELS. Sebagai konsekwensi penghentian kerjasama maka kewajiban sisa leasing harus dilunasi.

Sebagai konsekwensi sisa kewajiban leasing harus dilunasi maka alat berat harus dijual untuk menutup sisa pembayaran leasing. Karena sumber sisa pelunasam leasing antara lain diambil dari hasil penjualan alat berat. Selain ditanggung dengan pribadi TAN PAULIN sendiri untuk menutupi kurang bayar (MINUS) Eunike Lenny Silas diatas.

9. Bahwa pihak Eunike Lenny Silas secara sengaja mengabaikan fakta bahwa dalam kerjasama alat berat ini yang dirugikan adalah Tan Paulin pemilik PT Sentosa Laju Energy, yang telah mendapat tuduhan yang menyesatkan seolah olah PT Sentosa laju Energy meggelapkan dana penjualan dari alat berat senilai Rp 3.800.000.000 yang telah nyata dana tersebut untuk melunasi Leasing sesuai dengan kesepakatan yang telah ditandatangani bersama yaitu untuk penghentian Leasing PT. ACC, dana hasil penjualan tersebut bukan di miliki dan dikuasai oleh PT Sentosa Laju Energy.

10. Bahwa dengan demikian, sangat jelas dan terang benderang, tuduhkan penggelapan atas hasil penjualan alat berat oleh Tan Paulin dalam kerjasama alat berat adalah tuduhan yang tidak berdasarkan hukum dan dikaulifisir sebagai LAPORAN PALSU untuk menutupi kewajiban dan utang-utang Eunike Lenny Silas kepada Tan Paulin. Apalagi Eunike Lenny Silas mengakui ada perjumpaan hutang dalam kerjasama interior dan gorden. Dengan kata lain sebenarnya Eunike Lenny Silas tidak mengalami kerugian atas perkara yang dilaporkan. Sebaliknya justru TAN PAULIN yang dirugikan. (hf/ad/rdi)

Posting Komentar

 
Top