0
SURABAYA – Hairandha Advokad yang merangkap jabatan sebagai Notaris, Pada 9 Desember 2013 telah diadukan kepada Dewan Kehormatan PERADI Jawa Timur, karena telah melanggar kode etik seorang Advokat.

Dalam pengaduan tersebut Molyanto Wijaya merasa dipermainkan Hairandha setelah memperoleh tiga surat kuasa namun tidak pernah didampingi sama sekali pada saat di BAP maupun pada acara gelar perkara yang diselenggarakan diruang Reskrim Polrestabes Surabaya.

Selain itu Molyanto Wijaya didalam pengaduannya di Dewan Kehormatan PERADI juga menyebutkan bahwa Hairandha meminta sejumlah uang sebesar Rp. 160.000.000 untuk mengkondisikan para anggota Kepolisian yang akan ikut hadir dalam gelar perkara di Polrestabes Surabaya.

Mulyanto menyebutkan bahwa Hairandha Surayadinata berprofesi selain sebagai Advokat juga merangkap jabatan sebagai Notaris, yang sudah jelas-jelas melanggar undang-undang jabatan seorang Notaris dan juga Advokat tentang rangkap jabatan.

Dalam hal ini apa yang telah diperbuat oleh Hairandha sangat tidak terpuji dan tidak terhormat serta menciderai profesi Advokat dan mencemarkan nama baik para petinggi Kepolisian serta jajarannya, selain itu perbuatannya dengan meminta sejumlah uang namun tidak sesuai dengan kenyataannya merupakan suatu perbuatan yang menipu terhadap diri Mulyanto.

Dewan Kehormatan PERADI pusat dengan Nomor: 094/PERADI/DKP/EKS/V/16 menjatuhkan sanksi berupa pemberhentian tetap dari profesi Advokat dengan pertimbangan diantaranya mangabaikan atau menelantarkan kepentingan kliennya, berbuat hal-hal yang bertentangan dengan kewajibannya, melanggar sumpah/ janji Advokat dan/atau Kode Etikprofesi Advokat, tentang larangan rangkap jabatan sebagai Notaris.

Setelah mejatuhkan sanksi Dewan Kehormatan PERADI Pusat memerintahkan kepada Hairandha Suryadinata agar menyerahkan kembali Kartu Tanda Pengnal Advokat yang diterbitkan oleh Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia kepada Sekretariat Dewan Kehormatan PERADI Jawa Timur.(ad/rdi)

Posting Komentar

 
Top