0
Surabaya (beritajatim.com) - Wiyang Lautner (24) pengemudi supercar Lamborghini Gallardo nopol B 2258 WM kembali menjalani sidang di PN Surabaya, Rabu (24/2/2016).

Dalam sidang yang dipimpin hakim Burhanuddin, jaksa penuntut umum (JPU) Arief Rachman mendatangkan saksi Aiptu Andik Suroso polisi yang bertugas di Traffic Analyst Incident Polda Jatim.

Saat memberikan keterangan, Andik sempat mendapat teguran dari majelis hakim sebab menurut hakim keterangan Andik tidak berdasar pada apa yang dia lihat dan dia dengar melainkan dari hasil analisis yang didapatkan dari ilmu orang lain. "Anda bukan saksi fakta, karena keterangan Anda berdasarkan analisa bukan apa yang Anda lihat," ujar hakim Burhanuddin, Rabu (24/2/2016).

Burhan menilai jika Andik tidak tepat jika dikatakan sebagai saksi ahli, bahkan saksi ahli pun harus mempunyai sertifikasi atas kemampuan yang dimiliki. Sayangnya Andik pun mengaku tidak memiliki sertifikasi tersebut.

Usai sidang, kuasa hukum terdakwa yakni Ronald Napitupulu meragukan keterangan saksi, dia sependapat jika saksi bukanlah saksi fakta yang melihat secara langsung namun hanya berdasarkan asumsi serta analisa semata. "Lebih lengkapnya nanti kita uraikan di pledoi (pembelaan)," ujarnya.

Untuk kedepan, Ronald berharap agar hakim memutus ringan pada terdakwa sebab dalam fakta sidang sebelumnya sudah jelas jika anak dan isteri korban sudah memaafkan dan meminta agar terdakwa dibebaskan. "Mudah-mudahan divonis seringan-ringannya," ujarnya.

Seperti diberitakan, kecelakaan maut itu terjadi di Jalan Manyar Kertoarjo, Surabaya, pada Minggu pagi, 29 November 2015. Waktu itu, Lamborghini Gallardo yang tengah balapan dengan Ferrari merah tiba-tiba oleng ke kiri dan menyeruduk warung STMJ di sisi kiri jalan.

Akibatnya, Kuswarijo (51) tewas di lokasi akibat diseruduk Lamborghini. Sementara itu, dua orang lain, Mujianto (45) dan Sri Kanti Rahayu (41), mengalami luka-luka.

Lautner menjadi terdakwa dalam perkara ini. Dia didakwa dengan Pasal 310 ayat (4), (3), dan ayat (1) UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Ancamannya maksimal enam tahun penjara. (bj/rdi)

Posting Komentar

 
Top