0
SAMPANG – Kasus dugaan korupsi Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya atau dikenal dengan program bedah rumah, kembali menjadi sorotan masyarakat. Karena sampai kini Kejaksaan Negeri (Kejari) Sampang masih belum ada tanda-tanda untuk menindaklanjuti kasus tersebut. Padahal pihak Kejari sebelumnya sudah menetapkan dua tersangka, yakni Sunarto Wirodo dan Rofik Firdaus namun hingga kini masih belum melakukan penahanan. 

Kepala Seksi Pidana Khusus (Pidsus), Kejari Sampang, Wahyu Triantono, menyatakan, penyidikan kasus korupsi BSPS tersebut masih terkendala pemeriksaan saksi sebanyak 1.932 orang penerima bantuan, sesuai saran dan rekomindasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) harus diperiksa satu per satu. Sehingga penyidik butuh waktu lama karena dilakukan secara maraton, sedangkan jumlah Jaksa penyidik hanya beberapa orang.

"Jadi bukan proses hukum korupsi BSPS mandek tapi masih butuh waktu agak lama, karena ribuan saksi yang akan dimintai keterangannya. Sehingga kita fokus terhadap penuntasan kasus korupsi dana pesangon dewan dan kasus tebu yang menjadi skala prioritas terlebih dahulu," terang Wahyu, Kamis (4/2).

Dia juga meminta supaya masyarakat memahami bahwa keterbatasan personel Jaksa penyidik yang tidak sebanding dengan kasus korupsi yang cukup banyak. Sehingga satu Jaksa terpaksa harus menangani beberapa kasus, tentu saja kondisi tersebut merupakan salah satu kendala yang tengah dihadapi pihak Kejari.

Ia berjanji jika proses pemeriksaan terhadap saksi-saksi isudah tuntas, maka pihaknya pasti akan memanggil dan memeriksa kedua tersangka kasus BPSS tersebut. "Kami berharap masyarakat bersabar karena kita masih butuh waktu untuk segera menuntaskan kasus korupsi BSPS tersebut," pungkaanya.

Berdasarkan data Kejari, nilai kerugian yang dihitung secara internal Kejari berkisar  Rp 7 miliar. Dengan mengacu jumlah penerima bantuan sebanyak 1.932 orang yang seharusnya masing-masing penerima manfaat mendapatkan Rp 7,5 juta. Namun fakta di lapangan penerima bantuan  mengaku hanya menerima Rp 3,5 juta.(spn/pr)

Posting Komentar

 
Top