0
TULUNGAGUNG - Komando Distrik Militer (Kodim) 0807 Tulungagung menyelidiki coretan liar dengan pesan pujian untuk Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dan hujatan kepada pemerintahan Presiden Joko Widodo didinding Stadion Rejoagung Kota Tulungagung.

Disimpulkan bahwa vandal dari arang hitam itu menunjukkan ISIS memiliki simpatisan di Tulungagung. “Kita lakukan penyelidikan siapa yang telah membuat coretan ini,“ ujar Perwira Seksi Intelijen (Pasi Intel) Kodim 0807, Kapten Inf Siswanto kepada wartawan.

Coretan itu beredaksional “We Love ISIS Hancurkan Pemerintah Dajal Jowi”. Jowi yang dimaksud tentunya Presiden Joko Widodo (Jokowi). Coretan itu pertama kali diketahui Komandan Kodim 0807 Letkol Arm Brantas Suharyo yang tengah berolahraga pagi di stadion.

Setelah dilakukan pengambilan gambar sebagai alat bukti, petugas langsung menghapusnya. Sebab tulisan yang terdiri dari tujuh suku kata itu bernuansa provokatif.

Menurut Siswanto, pembuat coretan dinding diduga sengaja memilih tempat coretan yang berdekatan dengan lokasi para anggota (Kodim) berolahraga. Mereka diduga sengaja hendak memprovokasi tentara.
“Tentunya ini tidak bisa didiamkan begitu saja,“ tegasnya.

ISIS merupakan kelompok radikal yang bertanggung jawab atas serangan bom di kawasan Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Para peneror anti-kemanusiaan ini tidak lagi memilih Iraq dan Syria sebagai arena jihadnya.

Mereka juga melakukan serangkaian serangan ke sejumlah negara yang dianggap sebagai teman Paman Sam (Amerika Serikat).

Siswanto mengatakan, bahwa kelompok radikal itu memiliki pengikut di Tulungagung. Bahkan pernah ada penangkapan. Hanya saja Siswanto tidak bersedia membuka identitas mapun alamat.

“Karenanya saat ini fokus kita adalah ke daerah yang sebelumnya pernah dilakukan penangkapan itu,“ pungkasnya.

Sementara itu, aparat kepolisian Tulungagung memfokuskan penjagaan di sejumlah aset vital. Yakni di Waduk Wonorejo dan kawasan pantai selatan Popoh.

Menurut Kasubag Humas Polres Tulungagung, AKP Saeroji, penjagaan berlangsung 24 jam ditambah juga penambahan personel bersenjata di lapangan. “Sebab waduk yang juga PLTA ini merupakan salah satu terbesar di Asia Tenggara. Sedangkan Popoh berpotensi menjadi jalur masuknya orang asing,“ ujarnya.

Polisi, kata Saerojo, tidak ingin kecolongan lagi mengingat pernah terjadi penangkapan dua orang teroris jaringan Santoso di Tulungagung. Pelaku pernah bersembunyi tidak jauh dari lokasi bendungan Wonorejo sebelum akhirnya anggota densus 88 menembaknya hingga tewas.

“Segala langkah antisipasi kita lakukan secara maksimal,“ pungkasnya.(ari/pr)

Posting Komentar

 
Top