0
JAKARTA - Keterlibatan rumah sakit tengah didalami Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri terkait pengungkapan kasus perdagangan organ ginjal yang melibatkan tiga pelakunya sebagai tersangka yang ditangkap di Bandung, Jawa Barat beberapa waktu lalu.

Kepala Subdirektorat III Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Kombes Umar Surya Fana menjelaskan dalam kasus ini dokter dan pihak rumah sakit melewatkan proses wawancara terhadap korban yang menjadi pendonor ginjal.

Pihak dokter dan rumah sakit pun dianggap melakukan malpraktik bila melewatkan proses yang seharusnya dijalankan sesuai Standard Operacional Procedure (SOP).

"Kami sedang dalami apakah RS tahu mekanismenya seperti ini. Tapi ini sudah jelas mal praktik karena SOP tidak dilaksanakan. Ada satu mekanisme yang tidak dilakukan oleh rumah sakit yakni wawancara," jelas Umar di Bareskrim Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu (27/1/2016).

Menurut Umar, dalam wawancara sebelum operasi transplantasi ginjal, seharusnya dapat diketahui jika korban merupakan seorang pekerja keras, dan memiliki hubungan yang sedarah. Bila diketahui terdapat pantangan itu, maka operasi pun tak bisa dilakukan.

"Mekanisme pengambilan organ sudah dilanggar karena sebelum proses, harusnya wawancara. Terutama soal kerjanya, pekerja kasar harusnya enggak boleh, kecuali untuk keluarganya sendiri. Kemudian prioritas keluarga sedarah, karena tidak ada penolakan dari penerima ginjal, kan sejarah yang akan diketahui. Itu rules yang dilanggar," beber Umar.

Umar menduga sudah ada kongkalingkong antara tersangka HR atau HS yang berperan sebagai pihak yang menjembatani rumah sakit di Jakarta dengan pendonor yang sudah direkrut tersangka DD dan AG.

"Yang terjadi sekarang, permintaan ini, indikasinya muncul dari rumah sakit. Rumah sakit call HR kemudian HR kontak DD dan AG untuk rekrut," ucap Umar.

Seperti diketahui Bareskrim dalam kasus ini sudah menetapkan tiga tersangka yakni HR, DD dan AG. Berdasarkan hasil pemeriksaan, HR mengaku ada tiga rumah sakit yang ia gunakan, satu rumah sakit negeri dan dua rumah sakit swasta.(fid/pr)

Posting Komentar

 
Top