0
Pamekasan  – Selama bertahun-tahun, aduan sapi Madura yang beradu cepat dengan joki di lapangan terbuka hanya menampilkan tontonan apa adanya. Namun tidak kali ini. Gelaran Mahakarya Indonesia Sampoerna di ajang Festival Karapan Sapi 2015 begitu takjub dengan kolaborasi budaya dan hiburan yang benar-benar nyata adanya di Stadion R. Soenarto Hadiwidjojo, Pamekasan Madura.
“Sengaja kami membuat beda dengan tahun-tahun sebelumnya,” ujar Wahyudi, Ketua Penyelenggaraan Karapan Sapi Piala Presiden 2015, Minggu (1/11/2015).

Atas dukungan Sampoerna, kata Wahyudi, karapan sapi ini hadir sebagai tampilan Mahakarya Indonesia dengan akar budaya lokalnya. Ajang tahunan yang selalu dinanti masyarakat Pulau Garam itu semakin layak dinikmati dengan taburan hiburan yang sengaja ‘dikawinkan’ untuk memanjakan masyarakat.

“Ini perbedaannya. Kami memadukan unsur budaya dengan hiburan di Karapan Sapi Piala Presiden tahun ini,” cetus Wahyudi.

Lebih jauh dijelaskan, pacuan sapi ala Madura ini, melibatkan 24 peserta dari 4 kabupaten, Sumenep, Pamekasan, Sampang dan Kabupaten Bangkalan. Masing-masing kabupaten mengirimkan 6 peserta dengan 6 pasang sapi pacu yang sebelumnya disaring di tingkat kecamatan hingga kabupaten.


“Dari seleksi ini, tiap kabupaten mengikutkan 6 sapi pilihannya. Jadi, totalnya ada 24 sapi yang dilombakan. Sedangkan juaranya, diambil tiga peserta juara tingkat atas dan tiga juara tingkat bawah. Yang juara  bertemu juara. Yang kalah bertemu yang kalah,” ujar Yudi, demikian lelaki berkulit hitam ini akrab disapa.

Sebelumnya, dalam setiap lomba, sapi-sapi yang diikutsertakan sudah melewati seleksi dokter hewan dan Dinas Kehewanan. Kriteria sapi yang lolos uji, adalah bertinggi badan minimal 120 cm, berbadan sehat dan berkulit mulus. “Termasuk gigi juga bagus dengan kedua tanduk dalam kondisi baik dan berasal dari dataran Madura,” paparnya.

Disisi lain, Yudi juga mengungkapkan, sapi-sapi yang berhasil menjuarai karapan, memiliki nilai tinggi yang ikut menyandang status pemiliknya. Bahkan, nilai tawar sapi-sapi juara jika dijual, bisa mencapai bilangan fantastis dan menggiurkan. “Bisa sampai Rp 500 juta, atau bahkan Rp 1 miliar harganya,” tuturnya.

Terpisah, Senior Consultant Imogen PR, Aguslia Hidayah mengatakan, Mahakarya Indonesia merupakan gelaran tahunan yang bertujuan membangkitkan kembali rasa bangga masyarakat terhadap Indonesia. Caranya, Sampoerna dengan Mahakaryanya terus menggali dan memperkenalkan berbagai potensi kekayaan tanah air melalui rangkaian program acara.

“Mahakarya Indonesia ini kami gagas sejak 2011, dengan tema yang berbeda-beda setiap tahun dan lokasinya,” kata Lia, panggilannya.

Selain di Festival Karapan Sapi memperebutkan Piala Presiden RI 2015, produk Sampoerna yang melegenda, Dji Sam Soe kretek, turut menghadirkan hiburan musik traditional khas Madura.

“Namanya musik Daul. Musik ini dimainkan lebih dari 10 orang dengan menggunakan alat-alat dari barang bekas. Tradisi ini telah menjadi kebiasaan masyarakat Madura saat membangunkan sahur pada setiap bulan Ramadhan,” ujarnya.

Sekadar tahu, pacuan sapi di Madura ini kali pertama dikenalkan di era pemerintahan Pangeran Katandur di Keraton Sumenep pada abad ke 15 atau 1561 Masehi, sebagai kegiatan pengisi waktu luang seusai panen. Gagasan awal mula, penggandeng pasangan sapi terbuat dari bambu yang disebut Kaleles mirip alat pembajak sawah dengan ujung bawah dibuat rata.

“Jadi, tidak sampai merusak atau mendongkel tanah,” ujar Saki, seorang penonton yang tiap tahun mengaku selalu menyempatkan diri menyaksikan ajang pacu, karapan sapi.

Sebagai Mahakarya Indonesia, ajang Festival Karapan Sapi 2015 besutan Sampoerna ini tetap lestari dan hingga kini tumbuh berkembang di daerah asalnya, Madura. Festival ini biasanya digelar pada akhir musim tanam tembakau sebagai penutup musim kemarau hingga awal musim hujan. Di karapan sapi ini, dua ekor sapi dipasangkan dan dipacu gesitnya oleh seorang joki untuk diadu hingga mencapai garis finish. (esp1)

Posting Komentar

 
Top